The Role of the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) in Committing the Distribution of Counterfeit Drugs in Consumer Legal Protection

Authors

  • Ferika Indrasari Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera
  • Anggun Astuti Wijayanti Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

DOI:

https://doi.org/10.37287/ijghr.v8i4.2020

Keywords:

consumer, counterfeit drugs, distribution, legal

Abstract

The circulation of counterfeit drugs is a serious problem that threatens public health in Indonesia, particularly in Central Java. These dangerous counterfeit drugs not only harm consumers economically but can also cause fatal health effects, including poisoning, drug resistance, and even death. The Food and Drug Monitoring Agency (BPOM), as the government agency responsible for drug and food supervision, plays a crucial role in addressing this problem. BPOM's duties include supervision, law enforcement, and public education about the dangers and risks of using substandard drugs. This study aims to determine the role of BPOM in addressing the circulation of counterfeit drugs within the legal framework of consumer protection in Central Java. This research is a non-experimental study using qualitative descriptive methods, triangulation (combined) data collection, and inductive or qualitative analysis. The data collection techniques used were interviews, observation, and documentation, which were then processed and analyzed. Data were collected through in-depth interviews with the informants, as well as through observations and documentation of counterfeit drug cases provided by the Semarang City Food and Drug Monitoring Agency (BPOM). The study found that the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM)'s role in addressing counterfeit drug distribution and protecting consumers in Central Java remains ineffective, with numerous counterfeit drug discoveries occurring. Factors such as limited inspection resources, low public awareness of the dangers of counterfeit drugs, and the complexity of distribution networks are key challenges, indicating that current oversight and law enforcement efforts are inadequate.

References

Agustinus, Y. P. (2023, January 27). Polisi tangkap produsen ratusan ribu obat palsu dan obat ilegal. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/metro/2023/01/27/sejumlah-430000-butir-obat-obatan-ilegal-telah-beredar-selama-satu-tahun

April, V. N., & Dalam, P. B. (2024). Afiliasi: Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. 1(4), 43–49.

Aziz, A. (2020). Tugas dan wewenang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam rangka perlindungan konsumen. Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam, 23(1), 193–214. https://doi.org/10.15642/alqanun.2020.23.1.193-214

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2021). Laporan tahunan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Semarang tahun 2021.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Semarang. (2022). Laporan tahunan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Semarang tahun 2022.

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Semarang. (2023). Laporan tahunan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Semarang tahun 2023.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2000). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 166 Tahun 2000 tentang kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, susunan organisasi, dan tata kerja lembaga pemerintah nondepartemen. https://peraturan.bpk.go.id

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan. https://peraturan.bpk.go.id

Dahniar, Ahmad, J., & Uno, W. D. (2023). Studi kearifan lokal pengobatan tradisional dengan tumbuhan obat pada masyarakat Kecamatan Lakea Kabupaten Buol. Jambura Edu Biosfer Journal, 5(1), 9–14.

Hijawati, H. (2020). Peredaran obat ilegal ditinjau dari hukum perlindungan konsumen. Solusi, 18(3), 394–406. https://doi.org/10.36546/solusi.v18i3.310

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. https://peraturan.bpk.go.id

Law. (2024). Peredaran obat ilegal memberikan dampak negatif. IBLAM School of Law. https://iblam.ac.id/2024/01/15/peredaran-obat-ilegal-memberikan-dampak-negatif/

Gondokesumo, M.E. & Amir, N. (2021). Peran pengawasan pemerintah dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam peredaran obat palsu di Indonesia. Perspektif Hukum, 21(2), 91–107. https://doi.org/10.30649/ph.v21i2.16

Mekarisce, A. A. (2020). Teknik pemeriksaan keabsahan data pada penelitian kualitatif di bidang kesehatan masyarakat. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 12(3), 145–151.

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/45288/uu-no-8-tahun-1999

Rifki, M. (2024). Analisis kedudukan konsumen yang dirugikan akibat penggunaan obat disfungsi ereksi yang tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam hukum perlindungan konsumen. UNES Law Review, 6(4), 10407–10419.

Shalmont, J., Darmawan, G. I., & Dominica, D. (2023). Peredaran vitamin tanpa izin edar melalui transaksi e-commerce Tokopedia: Tanggung jawab siapa? Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, 12(2).

World Health Organization. (2023). Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension

Downloads

Published

2026-08-12

How to Cite

Indrasari, F., & Wijayanti, A. A. (2026). The Role of the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) in Committing the Distribution of Counterfeit Drugs in Consumer Legal Protection. Indonesian Journal of Global Health Research, 8(4), 873–880. https://doi.org/10.37287/ijghr.v8i4.2020

Similar Articles

<< < 2 3 4 5 6 7 8 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.