Profil Pasien Tuberkulosis Paru

Authors

  • Laisa Azka Universitas Lampung
  • Ari Sukma Nela Universitas Mitra Indonesia
  • Arini Meronica Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung

DOI:

https://doi.org/10.37287/jppp.v7i4.103

Keywords:

gejala klinis, gambaran laboratorium sputum, indeks masa tubuh, komorbid, tuberculosis

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit menular dengan angka mortalitas tinggi dan Indonesia menjadi negara dengan beban kasus kedua terbesar di dunia setelah India. Capaian indikator program penanggulangan TB masih menghadapi banyak kendala sehingga diperlukan pemetaan karakteristik pasien sebagai dasar intervensi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan profil pasien TB paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Bhayangkara Bandarlampung meliputi jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (IMT), gejala klinis, hasil laboratorium sputum, dan penyakit penyerta (komorbid). Desain penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan teknik consecutive sampling terhadap 65 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data diperoleh secara sekunder melalui rekam medis dan register, kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Hasil menunjukkan mayoritas pasien berada pada kelompok usia produktif (35–50 tahun) dengan distribusi 40 laki-laki dan 25 perempuan. Sebanyak 25 pasien memiliki IMT <18,5 (underweight). Gejala klinis dominan berupa batuk (60 pasien), diikuti hemoptisis (19), sesak (20), keringat malam (30), demam (17), dan penurunan berat badan (25). Pemeriksaan sputum menunjukkan 44 pasien positif BTA. Komorbid terbanyak adalah diabetes mellitus (14 pasien), hipertensi (11), HIV/AIDS (6), PPOK (5), hepatitis B/C (3), gagal ginjal kronis (2), sedangkan 18 pasien tanpa komorbid. Disimpulkan bahwa pasien TB paru didominasi laki-laki usia produktif dengan status gizi rendah, gejala klinis khas, serta komorbid yang berpotensi memengaruhi keberhasilan terapi.

References

Susanti EL, Senen P, Hasnaini A, Senen P. (2024).Karakteristik dan Analisis Risiko Kasus Tuberkulosis di Karakteristik dan Analisis Risiko Kasus Tuberkulosis di Puskesmas Senen , Jakarta Pusat tahun 2023. 8(2).

N.L N, Arda D. (2022). Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pencegahan Penyakit Tuberculosis Paru. Abdimas Polsaka. Mar 1;1:12–5.

Puspitasari, P., Wongkar, M. C. P., & Surachmanto, E. (2013). Profil pasien tuberkulosis paru di Poliklinik Paru RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.

Damayanti, L. G. T., Sukmawati, N. W. L., Sari, N. P. A. P., Suciptawati, N. L. P., & Dwipayana, I. M. E. (2024). Analisis pola sebaran kasus TBC di Jawa Barat dengan pendekatan VTMR dan autokorelasi spasial. Journal on Education, 6(03), 16159–16176

Mulya, F. (2023). Analisis program penanggulangan TBC di Indonesia dalam upaya pencapaian target eliminasi TBC tahun 2030. Universitas Indonesia

Putri, R. Y., Lestari, E. D., & Handayani, S. (2021). Hubungan antara Diabetes Melitus dan Keparahan Tuberkulosis Paru di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal Respirologi Indonesia, 41(2), 89–95.

Jeon, C. Y., & Murray, M. B. (2008). Diabetes mellitus increases the risk of active tuberculosis: a systematic review of 13 observational studies. PLoS Medicine, 5(7), e152

Nugroho, T., Rini, K., & Andriani, E. (2020). Prevalensi Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada Pasien TB Paru. Jurnal Kesehatan Respirasi, 8(1), 45–50.

Rahayu, W., & Wibowo, S. (2019). Status Gizi dan Lama Pengobatan pada Pasien Tuberkulosis di Wilayah Puskesmas Jawa Barat. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 11(3), 112–118.

Downloads

Published

2025-08-26

How to Cite

Azka, L., Nela, A. S., & Meronica, A. (2025). Profil Pasien Tuberkulosis Paru. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 7(4), 291–296. https://doi.org/10.37287/jppp.v7i4.103

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.